20 April 2008

Peluang Usaha: Bisnis EO (even Organizer) bagi Mhs manajemen

Saya membaca sebuah majalah tentang Alya rohali dan bisnis Eonya yang cukup menjanjikan..

Bisnis EO Alya Rohali -Dari Rumpiahan Lahirlah Bisnis
Bersama sahabat kumpul-kumpulnya, belum lama ini Alya Rohali mendirikan Buttrefly Event Management. Modal untuk bikin usaha pengelola acara ini cuma izin usaha. Alya berharap setahun berjalan sudah balik modal dan memetik keuntungan.

Sesosok gadis mungil tampak tergesa keluar dari studio. Namun, langkahnya terhenti sejenak ketika peserta kuis Siapa Berani, yang baru saja ia pandu berpasangan dengan Helmy Yahya, berebut mengerumuninya. "Mbak... foto bareng, dong," pinta seorang peserta kuis. Sesaat kemudian, ia pun berpose dengan ratusan peserta. Lampu blitz berkilat-kilat menerangi wajah manisnya. "Hmm..., hal-hal seperti ini biasa terjadi, tapi aku senang bisa melakoni," ujar Alya Rohali.

Alya mengaku tak pernah menyangka kalau dirinya kini benar-benar berenang di dunia entertainment. Padahal, kemunculan namanya di jagad selebriti diawali dengan penuh kontroversi. Gara-garanya adalah keikutsertaannya dalam ajang Miss Universe tahun 1996 yang mengharuskannya berpose dengan swimsuit.

Itu cerita dulu. Alya kini lebih terkenal sebagai salah satu presenter perempuan yang layak diperhitungkan. Keterampilannya membawa acara kuis dan menjadi MC di berbagai acara menjadikan nama Alya makin melambung. Belum lagi beberapa tahun belakangan ini ia juga ikut berlakon di beberapa sinetron dan bintang iklan. Tak pelak, wajah manisnya setiap hari bisa kita lihat di berbagai acara televisi. "Alhamdulillah, semua mengalir begitu saja," ujar Alya senang.

Belakangan, kesibukan Alya bertambah. Sejak April lalu, bersama empat teman karibnya, ia membuat perusahaan event management berbendera PT Butterfly Jaca Kashana. Tak hanya bertugas merancang sebuah acara agar berjalan mulus sesuai rencana, "Di perusahaan kami, klien sekaligus bisa memilih presenter di antara kami," ujar Alya berpromosi. Maklumlah, selain dirinya, nama artis Dina Lorenza dan Berliana Febrianti juga termasuk sebagai pendiri perusahaan. "Lumayan lengkap, kan. Tinggal pilih di antara kami," ujar Alya terbahak.

Ide awal untuk membuat bisnis pengelola acara ini pun tergolong unik. Bermula dari hobi kongko di kedai kopi, terwujudlah Butterfly Event Management. "Ketimbang membuang uang tanpa ada hasil, mending bikin usaha bareng yang bisa dapat keuntungan," ujar Alya. Apalagi bisnis event management - miriplah sama event organizer (EO) - tak berbeda jauh dengan kegiatan mereka. Sebagai badan hukumnya, Alya dan teman-teman ngerumpi membikin Butterfly Jaca Kashana.

Membagi tugas sesuai keahlian

Alya bilang, nama Butterfly Jaca Kashana bukan asal comot. Itu ada artinya, lo. Sebutlah butterfly, itu menandakan bahwa usaha ini adalah usaha para wanita. Selain itu, layaknya kupu-kupu, Alya berharap usahanya ini kelak juga mengalami proses metamorfosis. "Harapan saya, sih, dari usaha kecil, EO kami dapat menjadi besar dan terbang. Persis seperti kupu-kupu," ujar Alya. Jaca Kashana diambil dari singkatan nama anak-anak para pendiri perusahaan. "Mudah-mudahan dengan memakai nama anak dalam perusahaan, rezekinya juga lebih banyak," kata Alya berharap.

Modal awal untuk mendirikan Butterfly, kata Alya, tidaklah banyak. "Praktis modalnya hanya untuk mendapatkan izin saja," ujar wanita yang memasuki usia 30 tahun ini. Berdasarkan catatan Alya, porsi pembagian modal yang terbesar ada pada dirinya dan Iris Evansiana, salah seorang rekan kerjanya. Tiga pemilik saham lainnya, termasuk Dina dan Berliana, nilainya lebih kecil. "Tapi, selisihnya tidak banyak, kok," ujar Alya buru-buru.

Nah, untuk modal kerja, Alya dan teman-teman menggunakan sistem down payment alias DP. Jika Butterfly Event Management mendapatkan proyek, Butterfly akan meminta uang panjar terlebih dulu kepada klien. Besarannya sekitar 20% dari total ongkos acara. Alya dan teman-temannya akan memakai uang DP itu untuk uang panjar sewa tempat dan panggung, sound system, sampai makanan.

Soal pembagian kerja juga dibagi secara merata, tergantung keahlian masing-masing. Karena pertimbangan waktu yang lebih lowong jika dibandingkan dengan yang lain, Iris menjabat sebagai direktur utama. Alya dan Febriana lebih ke arah public relations alias humas. Dina bertugas mengatur keuangan perusahaan. "Dina sangat ahli dan ketat dalam mengatur keuangan. Jadi, memang cocok di bidang itu," ujar Alya.

Berapa karyawan perusahaan ini? Alya mengaku hanya mempekerjakan seorang manajer produksi. "Yang lainnya kita lebih ke outsourcing," kata Alya. Dihitung-hitung, jika mempekerjakan karyawan permanen, ongkos perusahaan akan melambung menjadi tinggi. Ini repot kalau Butterfly tidak mendapatkan proyek. "Pilihan tepat adalah outsourcing. Dengan begitu, kita membayar jika ada proyek saja," kata Alya.

Dengan latar belakang sebagai selebriti, Alya dan kawan-kawan merasa lebih diuntungkan untuk urusan marketing. "Orang lebih melihat kita, karena kita public figure," ungkap Alya. Meski begitu, untuk mendapatkan sebuah proyek, Alya dan kawan-kawan tetap harus mengikuti aturan main yang ada. "Kita di sini menjual konsep," begitu Alya menjelaskan. Jika konsep Alya dan kawan-kawan dirasa tidak sesuai dengan minat si konsumen, proyek pun akan gagal diraih. "Pernah kita gagal mendapatkan proyek," ungkap Alya. Bahkan, ia pun tak lepas dari caci-maki jika acara yang dikelola itu tidak berjalan mulus. "Untung pas dimaki, saya lagi enggak ada, ha-ha-ha...," canda Alya.

Karena tergolong pendatang baru, Alya dan teman-teman memasang strategi khusus. "Kita berusaha menekan biaya dan menawarkan harga semurah-murahnya," tutur wanita kelahiran Jakarta ini. Buat Alya, yang terpenting adalah mencari nama dan pengalaman dulu, bukannya keuntungan.

Dalam menggaet keuntungan, Alya dan teman-teman mengambil margin sekitar 10%-15% dari nilai proyek. Lucunya, hasil keuntungan ini akan ditabung terlebih dahulu untuk jangka waktu satu tahun. "Untungnya mungkin baru akan dibagi April tahun depan," tambah Alya.

Walaupun persaingan sangatlah berat, Alya mengaku usaha ini memiliki prospek yang sangat baik. Makanya, Alya dan teman-teman percaya, tahun depan Butterfly Event Management sudah dapat balik modal dan mulai memetik keuntungan. "Doain, ya, agar semuanya sesuai rencana," pinta Alya, kali ini dengan suara manja. Sama-samalah, Mpok.
+++++

Masih Pengin Jadi Pengacara

Di balik ketenaran dan keberhasilan seorang Alya Rohali, Alya sendiri mengaku tidak pernah berangan-angan menjadi seorang artis ataupun presenter. Waktu kuliah pun dia mengambil jurusan hukum pidana untuk menggapai gelar sarjananya. "Semula saya ini ingin menjadi pengacara," ujar Alya.

Rupanya garis tangan kemudian berubah. Ajang pemilihan Putri Indonesia menjadikan Alya masuk ke dalam profesi lain, yakni sebagai presenter dan pemain sinetron. Namun, Alya tetap ingin mewujudkan mimpinya untuk menjadi pengacara. Di tengah kesibukannya yang tergolong padat, termasuk syuting pada pagi hari dan menjemput anak semata wayangnya, Alya kuliah lagi untuk mendapatkan gelar S2 di Universitas Indonesia.

Sudah pasti, jalur yang dipilihnya adalah hukum. Namun, Alya tampaknya sedikit banting setir. Semula, ia berencana mengambil hukum pidana sebagai spesialisasinya. "Tapi, waktu kuliahnya ternyata pagi. Berbareng dengan kegiatan saya syuting," kata dia. Alhasil, Alya pun mengurungkan niat, dan menggeser ke hukum bisnis. "Saya mengambil hukum hak intelektual (HAKI)," tuturnya lagi.

Menurut Alya, di hukum kekayaan intelektual, ia menemukan ilmu hukum yang lumayan membetot perhatiannya. "Masih jarang ahli hukum yang berkonsentrasi di urusan HAKI ini," ucapnya. Terlintas di benak Alya untuk membuka sebuah law firm yang mengkhususkan pada masalah hak intelektual kelak kalau sudah kelar kuliahnya. "Belum tahu kapan, tapi saya akan membuka law firm itu," kata dia.

Tidak ada komentar: