20 April 2008

Peluang Usaha: Menjajal usaha susu kedelai dan kacang hijau


Montok sekali Rezeki Susu Nabati
Asal gigih dan siap bangun dini hari, berjualan susu kedelai dan kacang hijau ternyata tak sulit-sulit amat. Permintaan tengah menanjak. Dengan modal mini, maksimal dalam waktu dua tahun sudah bisa mencapai titik impas.


Naga-naganya definisi susu harus segera dikoreksi. Selama ini susu disebut sebagai cairan berwarna putih dan berasal dari kelenjar susu, baik dari buah dada seorang ibu maupun dari hewan. Padahal, minuman bernama susu juga bisa berasal dari ekstrak kacang kedelai (soymilk) dan kacang hijau.

Apalagi, makin hari masyarakat makin gandrung sama susu kedelai dan kacang hijau. Di Amerika, produsen susu kedelai merek Silk merupakan pengiklan terbesar natural foods dengan nilai US$ 22,3 juta. Nah, bukan tidak mungkin hal serupa akan terjadi di Indonesia, seiring dengan makin besarnya peminum susu kedelai. Maklum, kendati harga jualnya lebih rendah ketimbang susu hewani, tapi kandungan gizinya hampir sama.

Ujung-ujungnya, banyak pengusaha yang terjun menekuni usaha susu kedelai dan kacang hijau. "Peluangnya masih banyak, kok," tandas Hengky yang baru satu setengah tahun berwirausaha. Berpatungan dengan salah seorang mitra, ia menggelontorkan investasi awal sekitar Rp 40 jutaan.

Berlokasi di kawasan Gajah Mada, Jakarta Pusat, saban hari Hengky melego 200 sampai 300 gelas berukuran 300 ml. Perbandingan produksi susu kedelai dan kacang hijau adalah 70:30. Dengan mengusung merek Dreams, satu gelas susu kedelai dihargai Rp 2.500, sedangkan kacang hijau Rp 3.000.

Untuk menggapai pembeli, Hengky melobi beberapa toko roti, seperti Buana Bakery dan Bread In. "Khusus di Buana Bakery harga susu kedelai dan kacang hijau masing-masing Rp 3.500 dan Rp 4.000," terangnya. Perbedaan harga ini lantaran ia mesti menanggung biaya royalti yang dibebankan Buana Bakery.

Selain itu, Hengky juga menjajakan Dreams di beberapa restoran, tempat olah kebugaran, dan sekolah. Perkantoran pun ia rambah, seperti Sumitomo, cabang-cabang BCA, Bank Permata, JICA, Koperasi Pemda DKI Jakarta, hingga Pertamina. Untuk memperluas pasarnya, Hengky berupaya mencari distributor baru. Ia menjanjikan, distributornya bisa memperoleh untung antara 20% sampai 40% dari harga produk.

Demi menunjang dagangnya, ia mempekerjakan tiga orang pegawai. Untuk bahan baku, setiap dua pekan ia mesti belanja minimal 50 kg kacang kedelai dan 50 kg kacang hijau. Harganya masing-masing Rp 7.000/kg dan Rp 7.500/kg.

Hengky mengaku, sampai saat ini ia belum balik modal. Keuntungan yang telah diraih selalu diputar lagi untuk investasi, misalnya membeli mesin pengawet. "Target saya BEP-nya dua tahunan-lah," harapnya. Tinggal menghitung bulan, nih.

Harus tahu daerah pemasaran

Simak juga pengalaman Eddy Rizardi yang sudah malang melintang selama 12 tahun berbisnis susu kedelai. Boleh dibilang awalnya ia cuma bermodal dengkul, apalagi saat itu susu kedelai belum marak seperti sekarang. "Modalnya cuma beli kacang kedelai dan gula saja, lalu kakak memodali saya sebuah blender," kenangnya.

Saat itu ia menitipkan jualan pada kakaknya yang menjadi manajer pada salah satu kelompok usaha Bakrie. Ia juga menjual produk di tempat kerjanya. "Orang-orang di daerah Sudirman dan Kuningan sudah tahu produk saya, tapi identitasnya enggak ada," cetusnya. Dua kawasan yang disebutnya merupakan pusat perkantoran di Jakarta.

Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1997 barulah ia mengajukan izin sekaligus membikin merek susu kedelai Minangkabau. Kemudian ia berpikir, tanpa iklan usahanya tidak bakal jalan. Maka, ia pun beriklan, mencetak brosur, lalu menyebarnya. Sekarang, setiap bulan ia menganggarkan Rp 1 juta sebagai biaya promosi.

Selain pelanggan di pusat perkantoran, Eddy juga melakukan upaya jemput bola. Dengan menggunakan enam buah gerobak dorong, kini susu kedelainya menyusuri jalan-jalan ibu kota.

Walhasil, setiap bulan rata-rata ia berhasil menjual 6.000 bungkus dengan harga satuan Rp 4.500. "Omzet sebulan antara Rp 26 juta sampai Rp 27 juta," kata Eddy terus terang. Tentu saja omzet segitu masih harus dipotong berbagai biaya, seperti pegawai, ongkos produksi, bahan baku, fee tenaga marketing, dan biaya tetap bulanan.

Keberhasilan Eddy tentu tak dicapai dengan ongkang-ongkang kaki. "Kalau ingin menekuni usaha ini harus bangun jam 2 pagi," imbuhnya. Selain itu, juga mesti tekun, ulet, dan berani. Pengusaha harus tahu daerah pemasaran, agar tak dikerjai anak buah. Di samping itu, pertama kali jangan cari untung dulu. "Jaga mutu! Kalau sudah gitu, pelanggan bakal datang," imbuhnya.

Perkara proses pembuatan, Eddy bilang, semua orang bisa mempelajari. "Tapi, kualitasnya tidak. Kan beda-beda," cetusnya. Maka ia pun memilih sendiri biji kedelai yang akan diolah.

Kemudian, sejak enam bulan lalu, Eddy juga memproduksi susu kacang hijau. Harga jualnya sama saja dengan susu kedelai. Tapi, lantaran bahan bakunya lebih mahal, margin yang ia peroleh pun lebih sedikit. Kalau Anda berminat menekuni usaha ini, tentu tak sekadar bermodal dengkul semata. Anda mesti mempersiapkan terlebih dulu berbagai "peralatan tempur". Sebut saja mesin penggiling, mesin pemecah, mesin pendingin agar awet, kompor gas, panci, dan tetek-bengek lainnya.

Ada juga susu bubuknya

Tak cuma di Jakarta, di Lembang Jawa Barat yang merupakan sentra susu sapi, susu kedelai juga laris manis. Salah satu pengusahanya adalah Imas Rumasih. Sejatinya Imas adalah pengusaha tahu, tapi melihat adanya permintaan, akhirnya ia juga memproduksi susu kedelai.

Hanya, karena ini usaha sampingan, Imas tak terlalu ngoyo. Ia hanya menunggu pembeli yang datang minta dibuatkan susu kedelai seharga Rp 2.000 per bungkus "Lumayan, setiap hari ada saja yang datang," katanya dengan logat sunda yang kental.

Sementara di Bandung, sudah dua bulan ini Koperasi Warga MUI Jabar Hikmah memproduksi susu kedelai dengan merek Meta-Bolis. Uniknya, beda dengan susu kedelai lain yang bentuknya cair, Meta-Bolis berbentuk bubuk. Dengan wujud seperti ini, Aji Saptaji, CEO Hikmah, hakulyakin dagangannya bakal laku.

Sayangnya, susu bubuk Meta-Bolis belum pakai rasa. Ke depan, Aji berencana mengembangkan berbagai rasa, seperti vanila, stroberi, atau cokelat. Pemberian rasa ini juga bisa untuk menghilangkan rasa langu susu kedelai.

Meta-Bolis berdiri dengan modal Rp 100 juta dari beberapa pihak. Uniknya lagi, pola kerja sama dengan para pemodal berdasarkan syariah, seperti mudharabah dan syirkah. "Terserah investor mau pakai yang mau, pokoknya harus syariah," cetus Aji.

Saat ini penjualan Meta-Bolis cukup lumayan. Dengan harga Rp 12.000 sekotak isi 200 gram, setiap bulan laku 1.800 kotak. Untuk sementara daerah pemasarannya baru wilayah Jawa Barat.

Dalam waktu dekat, Aji akan mengembangkan pasar ke Jakarta, bahkan ke Malaysia. "Pekan depan kami diundang ke Malaysia untuk pameran, sekaligus membuka pasar di sana," papar Aji. Makanya ia optimistis, kurang dari setahun, usaha Koperasi Hikmah ini segera balik modal.

Wah, kalau sudah makin sukses, barangkali para ahli bahasa benar-benar harus berkumpul untuk meredefinisi susu.

Perhitungan Investasi disini --> KLIK

Tidak ada komentar: